Dear Gitabaliners,
Untuk mendengarkan streaming radio Gitabali.com,
Untuk mendengarkan streaming radio Gitabali.com,
silakan gunakan salah satu player di bawah:



Itunes Winamp Real Player VLC
Dengan streaming stereo, Khusus bagi yang menggunakan Windows Media Player, silahkan install plugin tambahan:


Itunes Winamp Real Player VLC
Dengan streaming stereo, Khusus bagi yang menggunakan Windows Media Player, silahkan install plugin tambahan:

"Gombalisasi" Bali, Sebuah Otokritik Terhadap Bali Kini
September 10th, 2009 | posted by Tut Nata
Malam semakin larut, udara di luar dingin sekali menyusup ke tulang. Kaki terasa berat sekali melangkah ke parkiran. Tetapi apa boleh buat, sudah saatnya pulang dari tempat kerja. Waktu sudah menunjukan 11.30 malam. Walau udara dingin, ternyata langit tampak indah sekali malam itu dengan cahaya rembulan yang lagi "telanjang bulat". Saat-saat seperti inilah tak bisa dipungkiri, ada sebuah kerinduan yang dalam, bukan semata sebuah kerinduan fisik, tetapi sebuah kerinduan yang dalam akan makna hidup kekinian di tengah-tengah berkembangnya budaya hedonis, konsumtif, egoisme sektoral dan kekerasan fisik. Sebuah kerinduan akan "nilai hidup" di Bali yang kini terasa semakin sirna dan tak banyak bedanya dengan luar Bali.
Sebagai orang Bali, lahir dan besar di kampung di tahun 80an, banyak cerita indah dan menarik yang didengar dari orang tua dan sebagian orang di jalanan termasuk beberapa media tentang keagungan Bali (alam, budaya, masyarakat dan kearifan lokalanya) di masa lalu. Seiring bertambahnya usia, semakin banyak berinteraksi dengan orang dan mulai bisa melihat isi dunia, ada banyak sekali pertanyaan di dalam diri. Mulai dari bali masa lalu, kini dan masa yang akan datang.
Di balik uneg-uneg yang berseliweran di otak ini, ada hal yang sejak awal sangat saya tidak setujui adalah "gombalisasi" Bali lewat media promosi apapun dengan mengatakan keindahan dan kebaikan Bali yang selama ini telah meninabobokan masyarakat Bali sendiri dan berusaha menutup-nutupi realitas kekinian yang sedang berkembang. Bali pun menjadi "kasub kaden", realitasnya tak ubah "topeng emas kuningan", "bungah" seperti "angkoban barong somi". Beberapa media online berani mewartakan bobroknya Bali, justru ditanggapi dingin dan dianggap sebagai sesuatu yang "vulgar" oleh sebagian kalangan dan hanya akan merusak citra Bali sebagai destinasi pariwisata. Maka masyarakat pun dipaksa rela untuk tunduk pada aturan main pariwisata dan bahkan sebagian besar larut menjadi obyek pariwisata.
Bali, "sayang-sayang kendang", yang bisa diartikan sebagai sebuah standar ganda dalam pembangunan Bali. Dielus, disayang dan juga digebuk. Sebagian mendengar nyaring dan indah, bagi sebagian lagi mendengar sumbang. Sementara tukan gebuknya asyik tanpa peduli nyaring sumbangnya suara kendang, yang penting adalah bunyi. Maka jadilah Bali yang bopeng seperti sekarang. Bukan saja pembanguna secara fisik, tetapi tatatan sosial masyarakat pun menjadi rapuh. Sementara orang Bali sibuk berkutat dengan permasalahan internnya yang kini semakin kentara di permukaan (adat, tradisi, agama dan urusan isi perut), pihak-pihak luar sibuk memanfaatkan titik-titik lemah itu untuk kepentingan sendiri maupun golongannya. Investasi dengan mengabaikan sosio-kultural masyarakat Bali, konversi dan proselitasi hanyalah sebagian kecil dari contoh dimaksud. Dan tak dipungkiri, sebagian dari masyarakat Bali ikut mengamini dengan memanfaatkan kesempatan di balik kesempitan dengan melakukan kongsi-kongsi yang samar yang nyaris tak bisa tersentuh oleh hukum positif. Sementara atas nama hukum karma dan toleransi, masyarakat Bali menjadi begitu permisif terhadap model perubahan yang lambat laut merubah tatanan sosial yang selama ini justru menjadi pondasi dan ciri khas masyarakat Bali.
Terkenalnya Bali dengan pariwisatanya ternyata meninggalkan sebuah "api dalam sekam" yang sewaktu-waktu bisa meluluh lantakan Bali. Ini bukan sebuah pernyataan dari rasa takut dan khawatir sebagai bagian dari masyarakat Bali, tetapi sebuah realitas bahwa ada titik-titik hitam Bali yang perlu dikelola dan dicarikan solusi dan dipromosikan, bukan malah melakukan "gombalisasi" Bali sebagai sorga dunia. Bali memang unik, memiliki nilai budaya tinggi, toleran dan permisif dan seabrek hal-hal positif lainnya yang tak bisa ditampik, yang membuat saya salut dan bangga sebagai orang Bali. Tetapi, ketika semua itu dihadapkan pada realitas kekininan di Bali, ternyata "gombalisasi" Bali telah membuat terlena sebagian besar masyarakat Bali sendiri dan kemudian menjadi gagap mana kala terjadi klimaks dari apa yang diwartakan selama ini. "Gombalisasi" Bali tak ubahnya seperti menaruh semua keunggulan-keunggulan Bali di "pelangkiran", dan merasa cukup terpuaskan (secara intelektual) dengan sebatas memujanya saban hari.
Mengkritisi Bali kini dengan membanding-bandingkan dengan masa lalu hanya akan membawa kita hidup ke masa lalu lagi. Ini hanyalah awal dari sebuah ketersediaan diri untuk menelanjangi diri sendiri sebelum menelanjangi orang lain apalagi ditelanjangi orang lain. Pahit sekalipun konseskuensi yang harus diterima, kita harus berani menerimanya. Bila dibiarkan toh juga akan menjadi lebih pahit lagi. Ini bukan masalah citra Bali lagi, tetapi masalah sisi-sisi kehidupan manusia Bali kini dan masa yang akan datang, di tengah-tengah perubahan global.
Saat pemegang kebijakan "buta bongol" terhadap realitas bali kini, saat sebagian media larut dalam "gombalisasi" Bali, tak adakah yang bisa kita lakukan untuk merubah kondisi ini? "Mereka ("orang besar" dan pemegang kekuasaan) saja tak perduli dan tak mau berbuat apa, apalagi saya", Itulah sebagian dari ungkapan skeptis dari orang yang tak punya keyakinan, keberanian dan percaya diri akan sebuah kekuatan terbesar yang dimiliki, yakni diri sendiri sebagai orang Bali, yang lahir dan besar dengan kearifan-kearifan lokal, bukan malah terlena dan terhanyut dibalik budaya permisif dan toleran. Tetapi menjadikan modal dasar (kearifan lokal) itu sebagai filter dan membangun semangat dan jati diri menjadi orang Bali yang mandiri dan mermartabat serta memiliki keunggulan nilai. Dengan demikian tak perlu bermilyar-milyar uang untuk mempromosikan Bali, hanya untuk "mengemis" pada pendatang dan orang asing untuk datang ke Bali. Berpangku tangan menunggu uluran pemegang kekuasaan dan uang. Menjadi orang Bali yang dungu bukanlah pilihan yang bijak. Keyakinan akan mengalahkan segalanya.
Mari membangun Bali dari pribadi yang mandiri dengan mulai berhenti terlena dari "gombalisasi" Bali selama ini. Yen sing iraga, nyen buin?
Catatan:
Tulisan ini diambil dari arsip blog pribadi sesuai aslinya.
Knoxville, 12 Maret 2008.
Malam semakin larut, udara di luar dingin sekali menyusup ke tulang. Kaki terasa berat sekali melangkah ke parkiran. Tetapi apa boleh buat, sudah saatnya pulang dari tempat kerja. Waktu sudah menunjukan 11.30 malam. Walau udara dingin, ternyata langit tampak indah sekali malam itu dengan cahaya rembulan yang lagi "telanjang bulat". Saat-saat seperti inilah tak bisa dipungkiri, ada sebuah kerinduan yang dalam, bukan semata sebuah kerinduan fisik, tetapi sebuah kerinduan yang dalam akan makna hidup kekinian di tengah-tengah berkembangnya budaya hedonis, konsumtif, egoisme sektoral dan kekerasan fisik. Sebuah kerinduan akan "nilai hidup" di Bali yang kini terasa semakin sirna dan tak banyak bedanya dengan luar Bali.
Sebagai orang Bali, lahir dan besar di kampung di tahun 80an, banyak cerita indah dan menarik yang didengar dari orang tua dan sebagian orang di jalanan termasuk beberapa media tentang keagungan Bali (alam, budaya, masyarakat dan kearifan lokalanya) di masa lalu. Seiring bertambahnya usia, semakin banyak berinteraksi dengan orang dan mulai bisa melihat isi dunia, ada banyak sekali pertanyaan di dalam diri. Mulai dari bali masa lalu, kini dan masa yang akan datang.
Di balik uneg-uneg yang berseliweran di otak ini, ada hal yang sejak awal sangat saya tidak setujui adalah "gombalisasi" Bali lewat media promosi apapun dengan mengatakan keindahan dan kebaikan Bali yang selama ini telah meninabobokan masyarakat Bali sendiri dan berusaha menutup-nutupi realitas kekinian yang sedang berkembang. Bali pun menjadi "kasub kaden", realitasnya tak ubah "topeng emas kuningan", "bungah" seperti "angkoban barong somi". Beberapa media online berani mewartakan bobroknya Bali, justru ditanggapi dingin dan dianggap sebagai sesuatu yang "vulgar" oleh sebagian kalangan dan hanya akan merusak citra Bali sebagai destinasi pariwisata. Maka masyarakat pun dipaksa rela untuk tunduk pada aturan main pariwisata dan bahkan sebagian besar larut menjadi obyek pariwisata.
Bali, "sayang-sayang kendang", yang bisa diartikan sebagai sebuah standar ganda dalam pembangunan Bali. Dielus, disayang dan juga digebuk. Sebagian mendengar nyaring dan indah, bagi sebagian lagi mendengar sumbang. Sementara tukan gebuknya asyik tanpa peduli nyaring sumbangnya suara kendang, yang penting adalah bunyi. Maka jadilah Bali yang bopeng seperti sekarang. Bukan saja pembanguna secara fisik, tetapi tatatan sosial masyarakat pun menjadi rapuh. Sementara orang Bali sibuk berkutat dengan permasalahan internnya yang kini semakin kentara di permukaan (adat, tradisi, agama dan urusan isi perut), pihak-pihak luar sibuk memanfaatkan titik-titik lemah itu untuk kepentingan sendiri maupun golongannya. Investasi dengan mengabaikan sosio-kultural masyarakat Bali, konversi dan proselitasi hanyalah sebagian kecil dari contoh dimaksud. Dan tak dipungkiri, sebagian dari masyarakat Bali ikut mengamini dengan memanfaatkan kesempatan di balik kesempitan dengan melakukan kongsi-kongsi yang samar yang nyaris tak bisa tersentuh oleh hukum positif. Sementara atas nama hukum karma dan toleransi, masyarakat Bali menjadi begitu permisif terhadap model perubahan yang lambat laut merubah tatanan sosial yang selama ini justru menjadi pondasi dan ciri khas masyarakat Bali.
Terkenalnya Bali dengan pariwisatanya ternyata meninggalkan sebuah "api dalam sekam" yang sewaktu-waktu bisa meluluh lantakan Bali. Ini bukan sebuah pernyataan dari rasa takut dan khawatir sebagai bagian dari masyarakat Bali, tetapi sebuah realitas bahwa ada titik-titik hitam Bali yang perlu dikelola dan dicarikan solusi dan dipromosikan, bukan malah melakukan "gombalisasi" Bali sebagai sorga dunia. Bali memang unik, memiliki nilai budaya tinggi, toleran dan permisif dan seabrek hal-hal positif lainnya yang tak bisa ditampik, yang membuat saya salut dan bangga sebagai orang Bali. Tetapi, ketika semua itu dihadapkan pada realitas kekininan di Bali, ternyata "gombalisasi" Bali telah membuat terlena sebagian besar masyarakat Bali sendiri dan kemudian menjadi gagap mana kala terjadi klimaks dari apa yang diwartakan selama ini. "Gombalisasi" Bali tak ubahnya seperti menaruh semua keunggulan-keunggulan Bali di "pelangkiran", dan merasa cukup terpuaskan (secara intelektual) dengan sebatas memujanya saban hari.
Mengkritisi Bali kini dengan membanding-bandingkan dengan masa lalu hanya akan membawa kita hidup ke masa lalu lagi. Ini hanyalah awal dari sebuah ketersediaan diri untuk menelanjangi diri sendiri sebelum menelanjangi orang lain apalagi ditelanjangi orang lain. Pahit sekalipun konseskuensi yang harus diterima, kita harus berani menerimanya. Bila dibiarkan toh juga akan menjadi lebih pahit lagi. Ini bukan masalah citra Bali lagi, tetapi masalah sisi-sisi kehidupan manusia Bali kini dan masa yang akan datang, di tengah-tengah perubahan global.
Saat pemegang kebijakan "buta bongol" terhadap realitas bali kini, saat sebagian media larut dalam "gombalisasi" Bali, tak adakah yang bisa kita lakukan untuk merubah kondisi ini? "Mereka ("orang besar" dan pemegang kekuasaan) saja tak perduli dan tak mau berbuat apa, apalagi saya", Itulah sebagian dari ungkapan skeptis dari orang yang tak punya keyakinan, keberanian dan percaya diri akan sebuah kekuatan terbesar yang dimiliki, yakni diri sendiri sebagai orang Bali, yang lahir dan besar dengan kearifan-kearifan lokal, bukan malah terlena dan terhanyut dibalik budaya permisif dan toleran. Tetapi menjadikan modal dasar (kearifan lokal) itu sebagai filter dan membangun semangat dan jati diri menjadi orang Bali yang mandiri dan mermartabat serta memiliki keunggulan nilai. Dengan demikian tak perlu bermilyar-milyar uang untuk mempromosikan Bali, hanya untuk "mengemis" pada pendatang dan orang asing untuk datang ke Bali. Berpangku tangan menunggu uluran pemegang kekuasaan dan uang. Menjadi orang Bali yang dungu bukanlah pilihan yang bijak. Keyakinan akan mengalahkan segalanya.
Mari membangun Bali dari pribadi yang mandiri dengan mulai berhenti terlena dari "gombalisasi" Bali selama ini. Yen sing iraga, nyen buin?
Catatan:
Tulisan ini diambil dari arsip blog pribadi sesuai aslinya.
Knoxville, 12 Maret 2008.
- Tut Nata's blog
- Login or register to post comments
semeton GB-ners
Semeton GB-ners ngiring menulis dan mengucapkan salam "OM SWASTIASTU" dan "OM SANTI SANTI SANTI OM" dengan kalimat yang lengkap Bukan OSA dan OSSSO,Suksma
"SETIAP KATA MEMILIKI MAKNA"
NGIRING MEDANA PUNIA


Penggemar GitaBali yang terhormat, apabila berkeinginan berdana punia / memberi donasi silakan Download PROPOSAL KERJASAMA MELALUI DANA PUNIA , Semoga dapat memberikan penjelasan. Secara singkat Gitabali menyediakan tempat iklan sebagai tanda terima kasih atas dukungannya. Silahkan hubungi Dj Gitabali terdekat atau email ring info@gitabali.com
* Ukuran banner 200 x 50 pixel dibuat oleh admin
Gitabali Top Ten Request
Minggu ke 2 bulan Juni 2011
1. Piling Sayangang - Ary Kencana
2. Satya - Dek Ulik
3. Kenangan di Nusa Dua - galuh Bilen
4. Sampunang Adi Takut - Alin
5. Selat Segara - Bayu Kresna
6. Tresna Di Hati - DJ de Budhi
7. 100% BTA - XXX
8. Ayu Puspa Dewi - Ngah Apet's
9. Tresna Kanti Pawah - Dek Ulik
10.Nyelimurang Hati - Eka Jaya
Updated by Admin
1. Piling Sayangang - Ary Kencana
2. Satya - Dek Ulik
3. Kenangan di Nusa Dua - galuh Bilen
4. Sampunang Adi Takut - Alin
5. Selat Segara - Bayu Kresna
6. Tresna Di Hati - DJ de Budhi
7. 100% BTA - XXX
8. Ayu Puspa Dewi - Ngah Apet's
9. Tresna Kanti Pawah - Dek Ulik
10.Nyelimurang Hati - Eka Jaya
Updated by Admin






Bali + Krama Bali = Berkembang
Sareng mabligbagan nggih..Salam Kenal ring semeton GB sane durung kenal…J
Becik pisan Blog puniki, ledangang tiang nimpalin akidik, JERO
BALI mesti BERKEMBANG..mangda ten dados ne TERBELAKANG.
Krama BALI sareng sami patut taler nyarengin BERKEMBANG lan MEMBUKA DIRI menerima perbedaan lan kritikan taler kayun BERTUKAR PIKIRAN antuk informasi2 baru sane ngewangun!!!!...Sampunang jeg BENGONG care SAMPI MEBALIH GONG ( Nyontek tembang Mbo’ Ayu Stiati), pang ten rugi dados krama BALI ne sampun becik mangkin, sampun kasub ring DURENEGARA. Pang dadi je irage sane ngundang Investor rauh ke BALI, nyarengin ngewangun BALI sane manut ring AWIG2, sareng sami ngelestariang tur Ng-AJEG-ang BALI. Sawireh nak mule tuah krama BALI dogen, sane paling patut MENGEMBANGKAN BALI kesarengin pemerintah lan Investor2 sane kapilih.
Nanging yening tetep gen iraga sareng sami ten mresidayang nyarengin PERKEMBANGAN ne punike, tetep mandeg ring KETERBELAKANGAN ten bani MEMBUKA DIRI ten Nyak BARENG2 MELAJAH, beh lacur!!! Pamuputne tetep gen be uluk2 ken timpal, Bapak2 ne dibeduur utawi Expatriate. Sabilang ajake ngorta jeg pasti anggut2 tur kenyem2 sing wanen nimpalin yadin be sing patut jeg keanggep PATUT. Niki mawinan KOH NGOMONG napi TEN NGERTI? Jeg SARU….Minab sampun lebian PIPIS sane memunyi, sane mragatang tur nabdabang napi2.
Semeton titiang, Ngiring Masikian Ngamiletang Rasa ngewangun BALI sane AJEG PEMBANGUNAN nyane lan KRAMA ne...J
SUKSMA TUR NUNAS AMPURA YENING WENTEN SANE TEN PATUT RING PIKAYUN SEMETON TIANG SARENG SAMI
Om Santi Santi Santi Om
Aruuuuhhh......jek ane ruwet2
Suksma mama...antosang tiyang
Dedariiiiii.......durus
ARUHHHH JRO BALIAN !!!
OSA JRO BALIAN !!!!!!
MIMIHHHHHHHH JRO BALIAN JOK SARENG GEN MEBLIBAGAN RING BLOG !!!!
SAMPUN MAKEH POLIH SESERI MANGKIN ????
NGGIH JRO BALIAN SAMPUNANG BES SERIUS NGGIH PANG TEN KENI PENYAKIT S3 NGGIH !!!!
JRO BALIAN INGIRING MANGKIN SARENG AJEGANG BALINE NGGIH !!!! SUKSEME JRO BALIAN DUMUGI RAHAJENG
SALAM HANGAT DARI MAMA DIGERMAN CIUM SAYANG MUACHHHHH
osa....jro balian
osa jro balian sakti saking pasar bintaro minab jro akeh polih pasien rahinane mangkin preside nedunin ring blog gitabali sareng mebligbagan indik ajeg bali iriki. becik pisan nike jro...ngiring irage sareng sami ngajegang bali....sareng sami melajahang dewek....wantah asapunike atur tityang benjang tyg jagi pacang rauh meubad..(nunas tamba) sakewanten sinampure sarine kuangan kidik kal anggeh hehehehe jeg sami serius san niki membahas ajeg bali.
semeton sami sinampure tyg wantah nak belog nulis blog puniki...yen wenten iwang antuk tyg tityang nunas geng rene sinampure
Sinampurayang semeton sami
Yen dados lungsur titiyang ngiring sareng sami melajahang raga....ida dane iring titiyang driki ring GB inggih punika genah utama anggen melajah ngerereh napi kasujatian BALI punika.
Patut kadi sane bawosang Bli Tut Nata, yen ten iraga2 puniki ngawitin mikenohang "BALINYA ORANG BALI", sira malih tunasin. Makweh panggihang titiyang...yen sampun mirengan orti becik indik BALI, lantur ngaku sampun raga nak Bali. Nanging yen wenten orti sane ten becik indik ring BALI, langah panggihin titiyang sane kayun ngakuin kekirangan BALIne punika.
Ngawit saking pabligbagan puniki, yen dados lungsur titiyang
ngiring sareng sami nyikiang raga, yen kadi rawos mangkine "MENYAMAKAN PERSEPSI" punapi antuk mangda prasida ngajegang BALI.
Titiyang ngaturang suksma ring paswecan Ida Sang Hyang Widhi Waca sampun meduwe semeton..sawitra...sane lintang2 pawikan kadi ida dane sareng sami sane iringang titiang.
Yening wenten kirang langkung atur, titiyang banget ngelungsur sinampura......suksma nggih
Saking titiang wong nambet
kuli pasar......
Suksme...
Suksme Bli Tut Nata mau sharing pemikirannya ke blog niki. Apa yang Bli Tut ungkapkan nike menunjukkan tidak adanya kesadaran bersama diantara orang Bali bahwa perkembangan jaman dan globalisasi itu lebih ke gombalisasi bagi Bali. Tidak adanya kesadaran bersama ini karena tidak ada faktor leadership yang kuat; mau dibawa kemana Bali ini. Untuk melawan arus jelas tidak mungkin, karena itu sama saja kita tidak mau beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Nanti seperti dinosaurus, tidak bisa beradaptasi lalu jadi punah. Jika ada kepemimpinan yang kuat (adat maupun agama), yang visioner dan tetap teguh terhadap nilai-nilai kearifan lokal, maka inilah yang akan menjadi "flagship" bagi masyarakat Bali ttg bagaimana seharusnya bersikap dalam menghadapi arus gombalisasi itu. Kalau kepemimpinan formal tidak bisa (entah karena tidak ada kemauan atau karena faktor lain), kepemimpinan informal lah yang mustinya bergerak. Satu kata kunci, yaitu bersatu. Untuk bisa bersatu, kita harus sama dulu persepsinya. Untuk bisa sama persepsinya, kita harus sering komunikasi (salah satunya dengan meglibagan di GB :) hehe).
Dari membaca tulisan Bli Tut Nata, tyang mendapat kesan nak bali mangkin seperti katak yg ditaruh di air dingin dalam baskom. Si katak nyaman2 aja, nggak sadar kalo baskom itu ada di atas kompor dan suhu airnya pelan2 naik. Waktu sadar, udah terlambat. Tapi, kita baru akan berubah jika sudah mencapai tahap krisis (dari The Day The Earth Stood Still). Masalahnya adalah mampukah kita memanfaatkan momentum krisis itu utk menyelamatkan diri, atau tidak......