OM Swastyastu Semeton Gitabaliners,
Untuk bisa mengakses fitur chatroom, upload blog dan profile pribadi serta banyak fitur lainnya selain streaming musik-musik Bali, Semeton Gitabaliners dimohon untuk melakukan Registrasi atau Login terlebih dahulu.
Suksma.
Om Santih Santih Santih Om

Dear Gitabaliners,
Untuk mendengarkan streaming radio Gitabali.com,
silakan gunakan salah satu player di bawah:
 listen with Winamplisten with Winamplisten with Real Player
Itunes Winamp Real Player  VLC
Dengan streaming stereo, Khusus bagi yang menggunakan Windows Media Player, silahkan install plugin tambahan:

Kami masih mencintai budaya tradisional Bali

Identitas itu tidak pernah tetap, tidak utuh, tidak satu tetapi terus digodok dalam proses. Artinya, bahwa identitas itu akan terus berubah, terus dikonstruksi dalam proses. Mungkin kita tidak perlu pesimis mendengar jawaban bahwa lagu Bali tidak memiliki identitas karena identitasnya bergulir terus dalam proses: proses itu sangat terasa dalam musiknya yang digarap dengan elemen musik Bali (suling, angklung, gender), elemen musik Barat, Mandarin, Banyuwangian, dan seterusnya. Berbagai jenis aliran musik sudah dapat kita dengarkan saat ini. Sementara generasi muda kita bergejolak mulai mencintai bahasanya sendiri. Mengangkat gengsi bahasa Bali. “Kami masih mencintai budaya tradisional Bali”. Bukan berarti itu hambatan untuk mencoba sesuatu yang berbeda dalam berkarya khususnya musik. “Bebas”, kata yang paling cocok untuk mencoba hal tersebut. Kebebasan untuk menghasilkan yang berbeda. Tanpa harus dikait-kaitkan dengan merusak dan melupakan budaya kita, selama tetap dalam jalur berkesenian. Bereksperimen mencoba terobosan baru. Itulah seni. Baik itu dalam seni rupa, seni tari, seni musik dsb. Penuh dengan proses-proses pencarian. Demikian pula dalam pencarian identitas lagu Bali itu sendiri. No name, no identity but freedom. Biarkan berjalan mengikuti waktu dan jaman…. Idealis. Kalau itu yang dirasakan orang lain, mungkin tidak sepenuhnya benar. Karena XXX (baca; Triple-X) merasakan bisa menerima jenis musik/lagu apa saja. Terlepas dari rasa suka dan tidak suka. Apapun jenis lagunya, tetap kita hargai proses kreatifitasnya. Namun, apabila kita memvonis salah terhadap karya itu adalah sikap berlebihan. Memaksakan kehendak karena merasa tidak suka. Kami rasa tidak aturan tertentu untuk berkreatifitas. Penyeragaman, toh nantinya akan menimbulkan kebosanan. Apapun kata-kata yang ditulis, rasanya tidak terlalu berpengaruh bagi mereka yang pernah menilai negative terhadap apa yang XXX tawarkan. Sehingga tersirat di benak kami ingin membuat mereka puas dan bahagia dengan memenuhi keinginannya. Lebih baik menghargai dulu orang lain sebelum mereka menghargai diri kita. Jenis musik yang ditawarkan juga relatif beragam. Tak berlebihan bila lagu Bali dibilang menjadi tuan di rumah sendiri. Kini lagu Bali sudah merasuk ke tulang punggung orang-orang Bali. Konser di desa dan di perkotaan mulai membius penonton. Semoga apa yang kami hasilkan bisa menyenangkan hati semua orang… Kami bukanlah siapa-siapa, hanya sekedar ingin berekspresi sesuai keinginan. by rah’tut xxx SALAM XXX Tangan disilang sebagai tanda persahabatan & perdamaian

Sepakat Untuk Tidak Sepakat

Tut Nata's picture
salam XXX,
Sedikit uneg-uneg (kutang pedalem) setelah membaca tulisannya RahtutXXX di atas dan suksma buat RahtutXXX yang sudah berkenan berbagi pemikiran di sini.

Saya salut dan sepakat terhadap semangat kebebasan berekspresi untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda [dan tentunya disertai tanggung jawab]. Saya yakin nilai-nilai lokal budaya dan tradisi Bali memberi ruang yang cukup luas terhadap keberagaman sesuai konsepsi rwa bhineda. Bagi saya, Tradisi dan Budaya Bali tidaklah "kolot dan saklek", tetapi dinamis dan progesif terhadap perubahan tanpa harus kehilangan nilai-nilai lokalnya. Perkembangan musik Bali dengan berbagai aliran dan jenisnya perlu dihargai bukan sebatas sebagai media hiburan dan ruang bereksperimen tetapi pertanda bahwa musik Bali masih eksis sebagau bagian dari budaya Bali.
Kita harus siap  "sepakat untuk tidak sepakat" menerima proses dan hasil dari ekspresi kebebasan yang bertanggung jawab itu.

Sebagai orang Bali, mencintai tradisi dan budaya Bali tidaklah cukup lewat atribut2 yang nampak di luar, tetapi lebih pada nilai-nilai yang dipahami dan dimengerti dalam diri sebagai orang bali dalam kehidupan sehari-hari. Suba ke iraga tyang ngerti kenken dadi nak Bali???

Suksma,
nata


semeton GB-ners

Semeton GB-ners ngiring menulis dan mengucapkan salam "OM SWASTIASTU" dan "OM SANTI SANTI SANTI OM" dengan kalimat yang lengkap Bukan OSA dan OSSSO,Suksma "SETIAP KATA MEMILIKI MAKNA"

NGIRING MEDANA PUNIA


Photobucket            securedownload

Photobucket          Photobucket

Penggemar GitaBali yang terhormat, apabila berkeinginan berdana punia / memberi donasi silakan Download PROPOSAL KERJASAMA MELALUI DANA PUNIA , Semoga dapat memberikan penjelasan. Secara singkat Gitabali menyediakan tempat iklan sebagai tanda terima kasih atas dukungannya. Silahkan hubungi Dj Gitabali terdekat atau email ring info@gitabali.com

* Ukuran banner  200 x 50 pixel dibuat oleh admin