Untuk mendengarkan streaming radio Gitabali.com,


Itunes Winamp Real Player VLC
Dengan streaming stereo, Khusus bagi yang menggunakan Windows Media Player, silahkan install plugin tambahan:

Makna Saraswati dalam kehidupan di Jaman kali yuga
Makna Saraswati dalam kehidupan di Jaman kali yuga
Oleh: Komang
Menurut ajaran Shastra widhi Hindu Dharma, maka yang disebut Dewi
Saraswati adalah shakti (pasangan wanita) dari Sang Pencipta Hyang
Brahma. Pada permulaan lahirnya Hindhu Dharma, maka konsep kuno yang
berada di Tibet, Nepal, China dan India kuno telah mengenal Sang Dewi
sebagai bundanya alam semesta ini. Beliau juga dikenal dengan berbagai
nama seperti Aralokiteswara, Kwan-Im,dsb didaerah-daerah tersebut
diatas. Mata sipit,tubuh langsing,dan kulit pucat putih konon oleh para
ahli dikatakan sebagai asal usul Sang Dewi Saraswati ini pada konsep
mula beliau di kawasan Himalaya yang berpenduduk berkulit putih pucat
ibarat salju dan bermata sipit.
Konon Hyang Brahma sebagai Pencipta isi jagat raya ini pada awal kehidupan dan penciptaan sangat gelisah karena asal mencipta saja tanpa sentuhan keindahan sama sekali, maka Dewi Saraswatilah yang kemudian mendapatkan tugas memperindah semua ciptaan-ciptaan di semesta raya ini. Bayangkan Sang Bunda Jagat Raya ini selain melahirkan berbagai ciptaan juga harus memoles,mengajarkan dan memperindah bentuk-bentuk ciptaanNya. Sehingga tidak mengherankan kalau beliau dianggap Tuhannya kaum Brahmanas di masa lalu. Konsep Tuhan sebagai wanita juga hadir di Hindu, India,dan Islam pada awal-awalnya. Kita telaah didalam An-Husna berisikan sekitar 70% unsur feminine dlm sebutan-sebutanNya (Baca: Dari Dharma ke Agama).
Kembali ke Bunda Saraswati, maka di Rig-Weda, kata Saraswati berarti “Yang mengalir”,beliau diibaratkan sebuah sungai suci yang senantiasa mengalir tanpa henti, menyuburkan setiap lahan yang beliau lalui, membersihkan kekotoran-kekotoran yang dibuang manusia, memberkahi setiap kandungan wanita,juga menjaga kearifan, bakti dan kesucian para pemuja-pemujaNya. Didalam Hindu Dharma beliau juga disebut Sarada (Sang Pemberi Makna), Wagiswari (Sang Guru yang mengajarkan tutur bahasa, grammar dan etika), Brahmi (Shakti Hyang Brahma), Mahawidya (Ilmu yang maha tinggi), dan berbagai sebutan lainnya (1008 sebutan). Bunda Saraswati adalah personafikasi dari semua bentuk ilmu yang melahirkan seni, budaya, kultur, peradaban,, sains dan teknologi. Semua seniman, pengukir, pematung,penari, ilmu-wan, agamawan, pelajar, guru dst di India memujaNya secara khusus pada hari raya Saraswati juga di Bali, Jawa dsb.
Kalau di India para pemahat, pengukir, seniman dsb ini berwarna brahmana karena berada dibawah naungan Saraswati, maka tidak demikian halnya di Bali, saya menemukan banyak seniman dari berbagai bidang seni rupa ini masih berkasta sudra. Tentu saja pemahaman yang salah ini melecehkan kaidah dari pemujaan ke Saraswati Sang Bunda Brahmi itu sendiri. Sepertinya “ada yang salah” di Bali ini, disatu sisi Saraswati amat diagung-agungkan, tetapi disisi lain para seniman yang berada dibawah warna bunda agung ini malah disudrakan. Sebagian dari para guru dan seniman ini “diperas dan di eksploitasi” demi keuntungan komersil para-wisata oleh “sebagian wangsa Bali yang serakah!”, padahal seharusnya dihormati sekali.
Kulit putihnya Sang Dewi ini bermakna dasar ilmu pengetahuan yang bertujuan putih atau positif dan bertujuan luhur dan suci. Sebaliknya awidya dilambangkan dengan warna hitam (kegelapan). Namun banyak kaum suci di India dan Jawa kerap berbaju hitam, agar menandakan bahwasanya dia adalah seseorang yang bodoh dan belum mampu berbaju putih (seperti halnya seorang Pandita). Sang Dewi dilambangkan duduk bersinggasana diatas bunga teratai, dengan berwahanakan seekor angsa, dengan keempat tangannya, beliau masing-masing memegang Vina (suling), Akshamala (tasbih), Pustaka (buku,kitab,karya shastra dan agama,sains,dst).
Tangan yang satunya ikut bermain Vina, atau sering juga digambarkan sedang bermudra dalam bentuk memberkahi ciptaan-ciptaanNya. Beliau juga sering dilukiskan dengan memegang Pasa (kwas), Ankusa (alat penyuntik), teratai (Padma), Trisula Sankha (alat tiup yang terbuat dari logam), cakra, kecapi, dsb. Kadang-kadang beliau digambarkan berwajah lima dan bertangan delapan, bermata tiga dan berleher biru. Dalam wujud ini beliau disebut Maha Saraswati, yang penuh kedigjayaan unsur inti utama Dewi Durga (Parwati). Beliau juga salah satu dari Maha Gayatri. Angsa tunggangan beliau disebut Hamsa, tetapi ada juga yang menggantikannya dengan seekor burung merak sesuai dengan kewajiban dan posisi beliau pada saat-saat tertentu.
Makna kitab yang dipegangnya adalah semua bentuk ilmu pengetahuan ; Vina melambangkan seni budaya dan sabda nada AUM, tasbih di tangan kanan bermakna rangkuman dari berbagai agama, dan ajaran-ajaran Ketuhanan dan ilmu-ilmu sains, yang seyogyanya dihayati secara penting dan penuh bakti bagi sesama mahluk, atau akan sia-sia saja penghayatan dan pelaksanaannya.
Sering hadir warna merah dalam lukisan Saraswati, yang berarti awidya yang menyesatkan. Angsa sendiri dapat memfilter air keruh dan memisahkannya dari kotoran-kotoran yang melekat pada air tersebut melalui paruhnya. Maknanya pemisahan antara widya dan awidya. Namun harus difahami juga bahwasanya widya dan awidya (Parawidya-iluminasi spiritual) dapat juga mengarahkan kita ke moksha. Seperti yang diutarakan Isawasya – Upanishad “Kita melampaui kelaparan dan dahaga melalui awidya, kemudian meniti melalui widya kearah moksha”. Konon demi penjabaran ajaran ini maka Bunda Saraswati memilih angsa dan merak sebagai wahana penyampaian pesan-pesannya, Kalau disimak dengan nurani yang sadar maka sadarlah umat Hindu akan inti makna ajaran adi – luhung yang menjabarkan betapa luas aspek Tuhan Yang Maha Esa dengan segala karya-karyaNya yang menakjubkan.
Kalau di Hindu (Bali) terdapat satu hari khusus Pemujaan Saraswati ,
maka di India semenjak masa lalu terdapat 2 hari khusus puja bagi bunda
Saraswati. Yang pertama Saraswati Ashtmi dan yang kedua disebut Dipawali
(Festival Cahaya). Pada puja yang pertama, maka Pemujaan ke Saraswati
diselenggarakan khusus di kuil-kuil Saraswati (tidak begitu banyak), di
Universitas-Universitas, sekolah-sekolah dan berbagai lembaga pendidikan
dan sejenisnya, di departemen pendidikan, dan di pusat-pusat seni
budaya. Pada hari ini semua guru dan siswa sekolah, seniman dan
seniwati, dari berbagai bidang seni – budaya dan kaum cendekiawan dari
berbagai cabang ilmu dan sains, plus kaum agamawan merayakannya secara
khusyuk sambil memohon berkahNya agar pendidikan seseorang dan bangsa
tetap jaya dan lestari. Berbagai upacara , upawasa (puasa) dan
pertunjukan berlangsung selama beberapa hari.ulasan selanjutnya silahkan baca di sini
- winduguna's blog
- Login or register to post comments
semeton GB-ners
NGIRING MEDANA PUNIA


Penggemar GitaBali yang terhormat, apabila berkeinginan berdana punia / memberi donasi silakan Download PROPOSAL KERJASAMA MELALUI DANA PUNIA , Semoga dapat memberikan penjelasan. Secara singkat Gitabali menyediakan tempat iklan sebagai tanda terima kasih atas dukungannya. Silahkan hubungi Dj Gitabali terdekat atau email ring info@gitabali.com
* Ukuran banner 200 x 50 pixel dibuat oleh admin
Gitabali Top Ten Request
1. Piling Sayangang - Ary Kencana
2. Satya - Dek Ulik
3. Kenangan di Nusa Dua - galuh Bilen
4. Sampunang Adi Takut - Alin
5. Selat Segara - Bayu Kresna
6. Tresna Di Hati - DJ de Budhi
7. 100% BTA - XXX
8. Ayu Puspa Dewi - Ngah Apet's
9. Tresna Kanti Pawah - Dek Ulik
10.Nyelimurang Hati - Eka Jaya
Updated by Admin






Recent comments
1 day 22 hours ago
2 days 20 hours ago
8 weeks 4 days ago
9 weeks 5 days ago
10 weeks 4 hours ago
28 weeks 1 day ago
36 weeks 2 days ago
45 weeks 6 days ago
50 weeks 4 days ago
50 weeks 6 days ago