OM Swastyastu Semeton Gitabaliners,
Untuk bisa mengakses fitur chatroom, upload blog dan profile pribadi serta banyak fitur lainnya selain streaming musik-musik Bali, Semeton Gitabaliners dimohon untuk melakukan Registrasi atau Login terlebih dahulu.
Suksma.
Om Santih Santih Santih Om

Dear Gitabaliners,
Untuk mendengarkan streaming radio Gitabali.com,
silakan gunakan salah satu player di bawah:
 listen with Winamplisten with Winamplisten with Real Player
Itunes Winamp Real Player  VLC
Dengan streaming stereo, Khusus bagi yang menggunakan Windows Media Player, silahkan install plugin tambahan:

Tujuan Hidup

Fiuuh…senang sekali akhirnya bisa kembali menuangkan ide-ide serta pemikiran ‘yang mungkin masih dapat dikategorikan dangkal’ dibandingkan pemikiran kawan2 yang lebih  bijak lainnya…kekekkekee….ampura before nggih, ngiring sareng2 melajah...^_^

Daripada berjuta macam distorsi masalah yang bercokol   memenuhi isi kepala ini yg sudah hampir over load hingga usia 26 tahun lebih mencari makna hidup, lebih baik dishare sajalah di media blog gitabali yg praktis ini…

Mengutip kalimat bijak seorang kawan blogger di jogya yg bahkan saya jg ga tahu parasnya , namun terus terang membuat kepala ini terotomatis untuk mengangguk saat membacanya…dia mengatakan :

Memiliki pengetahuan agama yang pas-pasan, tetapi berkeinginan untuk terus belajar dan menyadarkan orang lain untuk juga belajar, saya pikir, lebih baik daripada memiliki pengetahuan agama yang tinggi tetapi tidak mau berbagi dengan orang lain. Dan, jauh lebih baik daripada orang yang tidak mau belajar sama sekali”.

 

Kalimat tersebut memotivasi saya untuk terus mencoba belajar memahami keyakinan yg sudah diketik jelas di KTP mengingat secara hukum saya sudah layak mendapatkannya…mudah2an dengan niatan berbagi di media ini tidak merugikan orang lain…syukur2 bisa menambah ruang diskusi bagi pembelajaran kita bersama…awignam…

 

Bermula dari diskusi sehat bersama seorang kakak yang sempat terhenti karena kendala perbedaan waktu jualah yang memotivasi saya menuang dalam blog ini…disini siang…disana dini hari…hikz...(tetap sehat ya bro..ehm..:) saat saya curhat akan kondisi hidup yang terasa stagnan, terasa mandeg, ato mungkin karena mengalami kejenuhan dgn rutinitas hingga tak tahu akan melakukan apa dan bingung dengan tujuan hidup yang sesungguhnya. Kini menginjak usia yang telah melewati ¼ abad ini, masih sering hati ini berteriak lantang, ”wick..sudahkah kau memahami tujuan hidupmu dan memaknai arti Sang kehidupan itu sendiri?? ”. Mengapa kok masih saja sering kegelisahan ini menghantui di keseharian dalam menjalani karma hidup ini seiring dengan semangat yang terus berfluktuasi. Atau barangkali para sahabat bisa membantu saya untuk memberikan jawaban atas pertanyaan saya di atas tersebut?. Jadi teringat juga tulisan dari seorang sahabat yang berkata demikian, ”Hidup Cuma sekali, lakukan yang terbaik, dan terimalah setiap hasil dari  proses terbaikmu sebagai bagian dari karmamu”...yupp..

 

Saat ubek2 sebuah buku, dikatakan saat dua ribu lima ratus tahun yang lalu, orang-orang biasa seperti anda dan saya sering berkumpul di sekitar Buddha, terpukau oleh pancaran terang kepribadian-Nya, dan bertanya, ” Apakah Anda itu Tuhan??” Kemudian Sang Buddha dengan tenang menjawab, ” Bukan..Aku terjaga.” Ini adalah arti harfiah dari kata Buddha (”dia yang sudah terjaga” – terjaga dari mimpi buruk tentang keterpisahan hidup ke dalam cahaya kesatuan).

 

Kebangkitan ini adalah tujuan tertinggi dalam hidup, dan meski agama2 menyebutnya dgn nama berbeda, tujuannya satu dan sama. Mengutip sloka dalam Bhagawadgita IV.11 :”Dengan jalan bagaimanapun orang-orang mendekati, dengan jalan yang sama itu juga Aku memenuhi keinginan mereka. Melalui banyak jalan manusia mengikuti jalanKu”. Moksa bagi umat Hindu, Nirwana bagi kaum Buddhis, Yesus Kristus menyebutnya dengan indah ” memasuki kerajaan surga”. Bagi kaum sufi ini adalah penyatuan dengan Yang Dikasihi, bagi para mistikus Yahudi ini adalah Kembali ke negeri yang Dijanjikan. Adapula yang menyebutnya kesadaran Kristus atau Kesadaran Krishna, pencerahan, atau yang paling ngetren dgn istilah sekarang yaitu ”pencarian jati diri”. Namun tidak ada perbedaan di antara semua itu, seperti yang dapat kita lihat bila kita memandang tujuan itu sendiri daripada memperhatikan perbedaan-perbedaan tak terhingga dalam upacara dan ritual serta dogma. Tak peduli bagaimana menyebutnya, semua agama besar menunjuk ke tujuan yang sama. Sehingga sangat disayangkan apabila di jaman sekarang ini masih saja ada sebagian golongan orang yang begitu fanatis serta mengklaim telah mempunyai jalur yg paling benar ataupun tujuan yang paling mulia di antara semuanya. Bahkan tidak jarang memvonis ’aliran sesat’ kepada saudara-saudaranya sendiri, merusak dan menghancurkan dengan semena-mena tempat suci orang lain hingga paling ekstrim rela melakukan bom bunuh diri untuk mencapai ’tujuan mulia’nya itu. Yang kemudian hanya menimbulkan lebih banyak lagi permusuhan, rasa antipati, kesedihan, dan keprihatinan kita semua. Jadi ingat tulisan pakde Anand Krishna dalam bukunya yang berjudul ’Indonesia baru’,

”Agama manusia Indonesia Baru tidak sekadar mengajarkan kedamaian, namun juga mendamaikan! Ia tidak berada di atas mimbar untuk memamerkan kekuasaaanya terhadap ayat-ayat suci, tetapi berada setara dgn manusia untuk membantu mensucikan jiwanya. .Indonesia baru tidak lagi memiliki waktu berdebat tentang agama dan Tuhan. Ia melakoni agama dan senantiasa hidup dalam kesadaran berkeTuhanan.”

Kita semua mempunyai kerinduan akan suatu tujuan yang pantas  untuk mendapat dedikasi kita sepenuhnya, suatu cita-cita luhur agar kita dapat tetap memperhatikannya tak peduli keadaan apa yang terjadi di sekitar kita. Banyak kejenuhan dan kegelisahan timbul karena tiadanya tujuan dalam hidup, kita seperti orang yang sudah berpakaian lengkap di pagi hari namun tanpa tujuan jelas ke mana akan pergi.

Kalau boleh saya katakan, kebanyakan yang kita sebut ’ tujuan’ sebenarnya bukanlah tujuan. Karena tidak memberikan kita suatu maksud kehidupan yang meliputi semuanya. Tetapi bila kita mempunyai tujuan yang mengalahkan segalanya, kita menemukan bahwa banyak masalah kita lenyap dengan sendirinya. Semua menjadi jelas: kita mengetahui harus melakukan apa dengan waktu kita, apa yang harus kita lakukan dengan energi kita, dan kita lebih mudah melihat semua pilihan kecil yang dihadapkan kepada kita setiap hari. Apakah saya akan menghabiskan waktu melakukan pekerjaan kesukaan saya sendiri, atau melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi semua di sekitar saya?? Apakah saya akan menjauhi orang hanya karena cara mereka tidak sejalan dengan cara saya, atau saya mencoba hidup dalam keharmornisan dengan semua di sekitar saya?? Bila kita menatap tujuan hidup, kita melihat pilihan-pilihan itu di mana-mana, sepanjang waktu, dan kita mulai belajar untuk mengembangkan kemauan dan kebijaksanaan untuk membuat pilihan yang akan membantu kita tumbuh mencapai kemuliaan kita yang sesungguhnya.  Maka secara bertahap kita terjaga ke dalam watak alami kita, yang selalu murni, selalu sempurna..itulah Sang Diri yang Sejati.

 

Sekarang ini kebanyakan kita sangat jauh dari tujuan utama ini. Mayoritas di antara kita mengidentifikasikan dirinya secara obsesif dengan tubuh kita, emosi kita, intelektualitas kita, dan ego kita. Kita sungguh percaya bahwa kita adalah individu-individu terpisah yang memperoleh kesempurnaan dalam mencari pemuasan pribadi, meskipun itu dengan cara mengorbankan orang-orang di sekitar kita.

 

Dalam lingkungan tradisional, kita mendengar banyak tentang surga dan neraka, dan banyak orang mengatakan tidak percaya hal itu. Tetapi surga dan neraka bukanlah tempat, melainkan keadaan kesadaran. Neraka bukanlah suatu real estate bawah tanah tempat setan-setan (dan segala macam dedemit cs) berdansa kesana kemari dengan membawa garpu rumput (ampura kalo saya salah, karena saya belum pernah benar2 masuk ke neraka seperti itu J ), neraka sebenarnya adalah apa yang kita alami setiap kali kita terganggu kekhawatiran atau kemarahan atau kecemburuan, atau keserakahan. Neraka adalah kesepian dan frustasi yang semakin membesar kita rasakan bila kita berusaha hidup untuk diri sendiri sebagai individu terpisah. Begitupula surga juga suatu keadaan, yang dapat kita nikmati dalam hidup ini bila kita tidak lagi melihat diri kita secara terpisah-pisah. Bila kita melampaui identifikasi diri kita dengan tubuh, pikiran, dan ego maka kita hidup dalam kebebasan. Bila kita sudah menyadari bahwa kesempurnaan kita terletak dalam memberi sumbangan sebesar mungkin kepada keluarga, masyarakat, dan dunia kita, maka kita akan hidup selaras dengan kesatuan hidup. Inilah hidup dalam kebahagiaan yang hakiki, inilah surga di sini dan sekarang. Seperti itukah tujuan hidupmu kawan...??? karena sayapun masih belajar untuk menuju kesana. ^_^

 

Jember, 29 Juli 2009

With love,

 

 

ewick

 

 

Sumber :

- Bhagawad Gita

- ’Indonesia Baru ’ – Anand Krishna

- ’Sayap-sayap rajawali’ – Eknath Easwaran

 

Tujuan Hidup

(^_^)<><>MANTAP<><>(^_^)

kimchi's picture


Om Swastyastu.

Saya sangat kagum pada artikelnya ewick.walaupun masih muda,tapi sudah memahami tentang Agama.karna di jaman kali yuga ini sulit mencari orang yang paham tentang Agama.banyak orang pintar hanya mengerti dan tau teori saja tentang Agama.tapi pelaksanaannya NOL koma KOSONG.

Suksma ewick...

artikelnya sangat memberi inspirasi.

Komang Gde's picture

aku dapat membayangkan betapa gigihnya ewick, dalam mengarungi terpaan jaman kali yuga ini, dalam kegaduhan kehidupan yang tak menentu dan ber fluktuasi. anda berada terdepan membawa obor. anda adalah mercusuarnya kegelapan ini.

wah hebat suka baca - banyak ilmu, terus berbagi ama kita yang masih dalam kegelapan. thanks .

komang gde. 

semeton GB-ners

Semeton GB-ners ngiring menulis dan mengucapkan salam "OM SWASTIASTU" dan "OM SANTI SANTI SANTI OM" dengan kalimat yang lengkap Bukan OSA dan OSSSO,Suksma "SETIAP KATA MEMILIKI MAKNA"

NGIRING MEDANA PUNIA


Photobucket            securedownload

Photobucket          Photobucket

Penggemar GitaBali yang terhormat, apabila berkeinginan berdana punia / memberi donasi silakan Download PROPOSAL KERJASAMA MELALUI DANA PUNIA , Semoga dapat memberikan penjelasan. Secara singkat Gitabali menyediakan tempat iklan sebagai tanda terima kasih atas dukungannya. Silahkan hubungi Dj Gitabali terdekat atau email ring info@gitabali.com

* Ukuran banner  200 x 50 pixel dibuat oleh admin

Gitabali Top Ten Request

Minggu ke 2 bulan Juni 2011

 1. Piling Sayangang - Ary Kencana
 2. Satya - Dek Ulik
 3. Kenangan di Nusa Dua - galuh Bilen
 4. Sampunang Adi Takut - Alin
 5. Selat Segara - Bayu Kresna
 6. Tresna Di Hati - DJ  de Budhi
 7. 100% BTA - XXX
 8. Ayu Puspa Dewi - Ngah Apet's
 9. Tresna Kanti Pawah - Dek Ulik
10.Nyelimurang Hati - Eka Jaya

Updated by Admin